Tidak Hanya Pepatah Semata. Bibit, Bebet, Bobot Bisa Jadi Ada Benarnya?
Apakah Perilaku Buruk Bisa Diturunkan?
Ada pembahasan menarik dari podcast Happy Broken Family di Noice mengenai perilaku buruk orang tua yang bisa diturunkan ke anak. Pada podcast kali ini mengundang narasumber seorang psikolog bernama Samantha Elsener.
Pembahasan ini dimulai dengan pertanyaan dari pendengar mengenai permasalahan hidupnya di mana dia memiliki ayah yang abusive, tukang berselingkuh dan tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya secara finansial. Setelah dia mencari tahu ternyata kakeknya dari pihak ayah memiliki sifat yang sama, dia merasa ayahnya ini merupakan hasil copyan dari kakeknya.
Tidak hanya sampai di situ saja, dia memiliki seorang mantan pacar yang semasa kecil hingga remajanya juga mendapatkan kekerasan fisik dari ayahnya, setelah dicari tahu ternyata kakek dari mantannya juga melakukan hal yang sama terhadap ayahnya si mantan. Dan dia merasa mantannya menurunkan karakter yang sama persis seperti ayahnya tetapi lebih kearah kekerasan verbal. Dari sini dia melihat adanya siklus yang sama, dan yang menjadi pertanyaannya apakah secara mental mereka tidak menyadari apabila membenci seseorang di alam bawah sadar maka outputnya menjadikan kita seperti orang yang kita benci tersebut. Dan dia juga meyakini bahwa perselingkuhan, posesif dan lainnya itu bukan faktor genetik.
Menurut Samantha ternyata yang menjadikan hal ini terus berulang adalah karena tidak semua orang memiliki awareness. Dan apabila ada kasus dimana seorang ayah melakukan kekerasan fisik dan verbal tetapi anaknya hanya melakukan kekerasan secara verbal itu artinya risikonya sudah diperkecil dan kebanyakan yang seperti itu dapat berhasil untuk memperbaiki siklus atau bahkan stop the cycle. Karena untuk stop the cycle tidak bisa langsung dilakukan oleh satu generasi. Hal tersebut sangat melelahkan apabila hanya satu generasi yang bekerja keras untuk stop the cycle, di karenakan trauma ini sudah ada minimal 6 generasi sebelumnya dan baru akan selesai kalau kita mulai di generasi kita sampai dengan 6 generasi berikutnya. Jadi normalnya hal tersebut dieliminasi satu persatu.
Kalau misalnya kita mengidentifikasi family tree dan hasilnya semua laki-laki dari keluarga ayah memiliki bibit berselingkuh dalam pernikahan tetapi tidak berakhir dengan perceraian dan si para perempuannya ini sakit hati. Anak laki-laki dari keluarga itu pasti terbawa sifatnya baik dia tau atau tidak tau maka kecenderungannya akan seperti itu.
Katanya hal tersebut dipercaya karena adanya faktor genetika, tentu untuk pembuktian harus dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tetapi ada juga di beberapa kelompok psikolog yang tidak mau melihat hanya dari genetikanya saja di karenakan psikolog memiliki dasar yaitu perilaku. Psikolog melihat dari perilaku sosialnya, jadi social learning nya yang dipelajari dari dia kecil walaupun hanya dari sebuah cerita.
Kalau anak laki-laki tersebut tidak ingin mengulang kesalahan itu maka dia harus sangat sadar bahwa dia memiliki kecenderungan untuk berselingkuh dengan orang yang karakternya seperti apa, pada momentum yang bagaimana. Karena perselingkuhan itu tercetus karena ada momentumnya, misalnya sering berantem dengan pasangan.
Jadi, selain awareness hal apalagi yang orang harus ingat agar hal ini tidak berulang? Kuncinya adalah berjuang untuk memperbaiki diri salah satunya dengan cara treatment ke psikolog.
Dari pembahasan tadi apakah ini berati filosofi jawa "Bibit, Bebet, Bobot" itu ada benarnya? Betul, tetapi yang jadi persoalan "Bibit, Bebet, Bobot" itu terkadang mengandung bias. Yang dilihat adalah yang kasat mata seperti pendidikannya dimana? kerjanya apa? penghasilannya berapa? dan sebagainya. Karena ternyata kasus KDRT juga banyak dialami oleh orang-orang yang memiliki banyak uang dan sukses.
Comments
Post a Comment